Ilmu Pengetahuan Teknologi dan Kemiskinan

VII. Ilmu Pengetahuan Teknologi dan Kemiskinan

 I.    Ilmu Pengetahuan Teknologi Barat dan Indonesia

Dunia intelejen dengan berbagai kisah heroiknya, bukan hal asing bagi masyarakat kita. Berbagai roman tingkat tinggi, rumit, dan berbasis teknologi canggih, hadir di televisi rumah tangga hampir setiap saat. Ditonton oleh bapak dan ibu rumahtangga, bahkan anak-anak di rumah.

Hampir sebagian besar masyarakat kita mengenal dekat karakter tokoh spionase cerdas, ganteng dan cantik dalam film paling laris, James Bond dengan kode agen 007. Sean Connery ataupun Roger Moore seolah membius dunia sejak serial James Bond pertama (DR. No) dirilis tahun 1962.

Cerita fiksi karangan Ian Fleming tahun 1953 ini, sangat menarik perhatian penonton karena lakon agen inteligen yang berani, pandai dan cekatan dalam operasi spionase kelas atas yang berbasis pada kegiatan agen rahasia Inggris (Secret Intelligence Service/SIS) dengan sandi M16 atau nama samaran, Universal Exports.

Film serial James Bond adalah ikon universal dan dikenal luas oleh masyarakat dunia. Jadi jika berbicara mengenai James Bond, kita seolah memaknai operasi spionase paling canggih, sarat intrik, kaya tipu daya dan penuh romansa.

Khusus bagi Indonesia, ada satu nama yang seolah terlupakan, namun terkait erat dengan sejarah perjalanan dunia inteligen Indonesia. Nama itu adalah pulau Saipan, bagian dari gugusan kepulauan kecil di Pasifik milik Amerika Serikat.

Pulau kecil ini hanya memiliki panjang 19 kilometer dan lebar 9 kilometer dengan penduduk sekitar 48.220 orang. Pulau yang hanya berjarak 500 kilometer dari pulau Morotai ke arah Timur Laut ini direbut Amerika Serikat dari pendudukan Jepang pada perang dunia kedua melalui pertempuran mematikan (15 Juni-9 Juli 1944) dan menewaskan lebih dari 30.000 tentara dari kedua pihak.

Kini pulau Saipan dihuni oleh beragam etnis. Ada orang Ternate, Bugis, Sangir Talaud, Madura, Dayak, Spanyol, Jepang, China, Philipina, Amerika, Hawaii dan Samoa.

Di era perang dingin usai perang dunia kedua, Amerika Serikat menjadikan pulau Saipan sebagai tempat mendidik para mata-mata (spy catcher) asal Indonesia. Selama sembilan tahun (1953-1962) catatan literatur tersembunyi menggambarkan bagaimana para calon mata-mata dilatih untuk kepentingan kontra inteligen kubu blok Timur yang saat itu dipimpin Uni Soviet.

Dalam pergaulan global yang semakin mengecil karena perkembangan teknologi, kasus sadap-menyadap akan terus terjadi. Semuanya bergantung hanya pada kepentingan atau interest yang terus berkembang dinamis.

Dengan perkembangan teknologi yang begitu pesat dan dapat diproduksi ataupun dibeli oleh siapapun, hampir tidak ada zona aman operasi inteligen khususnya penyadapan.

Pada Juni 2000 koran terbesar dan paling dipercaya di Amerika Serikat, Washington Post, secara terbuka memberitakan informasi penyadapan jaringan komunikasi Gedung Putih dan CIA. Tuduhan diarahkan pada perusahaan telekomunikasi A Ltd, yang dicurigai memiliki afiliasi dengan dinas rahasia Israel, MOSSAD.

Skandal penyadapan terhadap beberapa elit politik Inggris oleh News of the World (NOW) milik raja media Rupert Murdoch yang menghebohkan dunia, membuktikan bahwa siapapun rentan terhadap kasus penyadapan. Karena teknologi memang menembus batas dan waktu.

Namun kasus penyadapan Presiden SBY, Ibu Negara dan beberapa pejabat tinggi Indonesia lainnya oleh Australia tahun 1999, jelas melanggar moral, etika, hukum dan HAM. Apalagi penyadapan diarahkan langsung secara personal. Sangatlah bersifat pribadi dan destruktif. Amatlah pantas jika rakyat Indonesia geram dan marah.

Lalu seberapa besar kerugian Indonesia jika Presiden SBY ”memutuskan” beberapa bentuk perjanjian bilateral dengan Australia? Data memperlihatkan, sangatlah kecil ketergantungan Indonesia kepada Australia.

KADIN Indonesia mencatat, tahun 2010 neraca perdagangan kedua negara memperlihatkan Indonesia surplus. Dari total 8,3 miliar dolar AS nilai perdagangan bilateral, Indonesia surplus 8,47% atau 4,2 miliar dolar. Indonsia mengekspor emas, peralatan tv dan produk kayu. Sementara impor dari Australia adalah gandum, hasil peternakan dan kapas.

Selain perdagangan, perjanjian bilateral yang sensitif lainnya adalah kerjasama militer. Pada 12 November 2012 di Cilangkap Jakarta, Panglima TNI saat itu, Laksamana Agus Suhartono menandatangani nota kesepahaman dengan Panglima Angkatan Bersenjata Australia (ADF) Jenderal David J. Hurley. Meliputi kerjasama di bidang inteligen, operasi dan latihan, pendidikan, program khusus dan logistik.

Juga banyak perjanjian lainnya, termasuk penanganan masalah pengungsi atau pencari suaka. Karena alasan geografis dan saling percaya, Australia sangat membutuhkan Indonesia sebagai kawasan penyanggah dari serbuan para pencari suaka.

Merujuk pada beberapa aspek utama diatas, ketergantungan Indonesia sebagai negara berdaulat terhadap Australia sangatlah minimal. Secara politis, sebagai pendiri ASEAN, Indonesia jauh lebih dihormati di Asia Tenggara dan Asia dibanding Australia.

Sebagai ”jembatan” Timur-Barat, Utara-Selatan, Atlantik-Pasifik, posisi geopolitik Indonesia jauh lebih strategis dibanding Australia. Amerika Serikat dan Uni Eropa pun ”tidak akan pernah berani” menyepelekan Indonesia, untuk menjaga keseimbangan kawasan. Belum lagi posisi Rusia dan China, yang memiliki sejarah persahabatan panjang dengan Indonesia.

Kesimpulannya adalah, kasus penyadapan Kepala Negara dan Kepala Pemerintahan, oleh negara lain, adalah tindakan penistaan. Klarifikasi dan penjelasan resmi dari pemerintah Australia, sangatlah dibutuhkan.

Karena selama ini, sebagai mitra, tetangga dan sahabat, Australia seakan-akan tidaklah pernah tulus bergaul dengan bangsa Asia. Australia lebih merasa sebagai orang Eropa di perantauan, ketimbang melihat fakta bahwa mereka adalah pendatang bagi bangsa Asia.

Analisis : Teknologi jaman sekarang sudah diluar batas. Pada jaman ini sudah tidak ada hal yang mustahil yang dapat dilakukan dengan teknologi. Kasus penyadapan Australia kepada negara indonesia adalah bukti dari diluar batasnya teknologi sekarang, bayangkan dari beda negara penyadapan sudah bisa dilakukan. Semoga dengan kejadian itu pemerintah indonesia dapat meningkatkan keamanan negaranya, terlebih dalam  bidang teknologi agar kejadian seperti itu tidak terulang lagi.

 II.    Peran Teknologi dalam Mengatasi Kemiskinan

Seperti yang kita ketahui kemiskinan di Indonesia masih sangat tinggi,masih banyak rakyat hidup dibawah garis kemiskinan,maka dari itu peran teknologi itu sangat dibutuhkan apalagi dizaman yang semakin maju dan modern ini untuk membantu mengatasi kemiskinan.dalam kehidupan nyata ini saya masih sering menjumpai orang-orang yang belum tahu iptek itu apa?,manfaatnya apa?

 Apalagi didaerah- daerah yang jauh dari pusat kota kebanyakan dari mereka  tidak tahu tentang pengetahuan  berbagai teknologi yang ada.seharusnya hal tersebut sudah tidak ada dizaman yang modern ini pengetahuan tentang teknologi  sebaiknya merata dengan seperti itu angka kemiskinan akan berkurang dengan berjalannya waktu ,pemerintah juga membantu memberikan fasilitas yang bisa digunakan mereka agar tercipta kehidupan yang lebih baik.

Dengan seperti itu masyarakat bisa berfikir luas tentang  keterampilan apa yang bisa dibuat dan mengasilkan uang untuk mereka dan di bantu pula  dengan teknologi yang mereka sudah ketahui seperti manfaat teknologi informasi dan komunikasi cara sepeti itu akan menciptakan SDM yang berkualitas dan masyarakat bisa hidup lebih mandiri misalnya dalam bidang ,seperti pendidikan ,perindustrian pertanian ,perdagangan,dll.

Dibalik manfaat yang baik untuk kelangsungan hidup masyarakat ternyata teknologipun mempunyai efek yang berdampak negatif bagi mereka yang belum siap mental.misalnya saja dikalangan remaja mereka berangkat dari rumah untuk sekolah tapi ditengah jalan malah ke warnet untuk bermain game online, terus alasan nginep dirumah teman padahal begadang di warnet untuk bermain,hal ini anyak dilakukan anak-anak tersebut sehingga mental yang dia punya tidak terlahir dengan baik dan ini juga yang dapat menyebabkan kriminalitas yang mewabah saat ini.baik di jejaring social seperti  facebook,twetter,banyak masyarakat yang memiliki tap tidak digunakan sebagai mana fungsinya akibatnya terjadi
penculikan,pemerasan dan bentuk kriminalitas lain.

Analisis : Pada jaman ini teknologi sudah sangat penting bagi perkembangan dunia. Seperti yang saya bilang pada kasus pertama di atas “tidak ada hal yang mustahil yang dapat dilakukan oleh teknologi”. Kemiskinan dapat diatasi dengan teknologi. Seperti masyarakat sekarang dapat berdagang online, dengan cara itu kemiskinan dapat teratasi.

 

Referensi

http://www.tribunnews.com/tribunners/2013/11/25/kasus-penyadapan-dan-kepentingan-indonesia

http://l-doy.blogspot.com/2013/01/manfaat-iptek-dalam-mengatasi.html

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s